macet
By Gerry Ardian Alamsyah

“Macet” masih menjadi topik yang sangat hangat diperbincangkan di Indonesia. Banyak sekali faktor yang bisa menyebabkan kemacetan itu sendiri terjadi, dan tentu saja hal ini yang memancing para pengguna Social Media untuk berceloteh tentang permasalah macet itu sendiri. Masalah ini pun sering kali menjadi Trending Topic di beberapa social media, terutama di Twitter.

Dengan fakta tersebut, kami mulai tertarik untuk melakukan analisis perihal masalah macet yang sering kali diperbincangkan di Social Media Indonesia. Kami melakukan pemantauan selama tiga bulan (Mei, Juni dan Juli) dengan menggunakan data yang berasal dari social media Twitter dan dianalisis dengan menggunakan mesin NoLimit Dashboard.

Mengapa Menggunakan Data Social Media?

Penggunaan Social Media di Indonesia semakin bertambah dari waktu ke waktu. Kemudahan yang ditawarkan dalam mengeluarkan pendapat, berinteraksi, dan hal-hal lainnya membuat Social Media dipilih sebagai media utama dalam mengeluarkan pendapat, khususnya oleh warga Indonesia. Bahkan menurut hasil laporan dari Hootsuite dan We Are Social, Indonesia berada pada ranking ke tiga dengan penambahan jumlah pengguna Social Media sebesar 27.000.000 atau bertambah sebanyak 34% di tahun 2017.

Social Media Growth Ranking Report by Hootsuite and We are Social

Hal ini lah yang menjadi latar belakang kami untuk melakukan analisa ini, di mana data-data yang menjadi bahan analisis ini berasal dari data Social Media, terutama Twitter dan diolah dengan menggunakan mesin NoLimit Dashboard.

Kata Kunci “Macet” di Social Media Twitter

Secara keseluruhan, kata kunci “Macet” dibicarakan sebanyak 53. 398 kali pada Social Media Twitter. Kami pun membagi analisa ini menjadi dua bagian, yaitu kemacetan yang terjadi di jalan tol dan juga di jalan non-tol. Jumlah perbincangan untuk kemacetan di jalan tol mencapai 22.896, sedangkan untuk jalan non-tol mencapai 30.502.

Kemacetan di Jalan Tol

Secara garis besar, perbincangan perihal macet paling banyak terjadi pada bulan Juni. Tepatnya pada tanggal 23 Juni, di mana garis besar perbincangannya adalah menjelang hari libur yang menyebabkan arus mudik hampir di setiap jalan tol. Perbicangan pada tanggal 23 Juni ini mencapai 1.554. Sedangkan pada bulan Mei, perbincangan perihal macet paling banyak terjadi pada tanggal 10 Mei (399). Menjelang Hari Raya Waisak menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya banyak perbicangan tentang macet. Sedangkan pada bulan Juli, perbincangan terkait macet banyak terjadi pada tanggal 1 Juli (996), di mana pada tanggal tersebut adalah waktu arus balik bagi mereka yang baru pulang mudik.

Mengusung data di atas, penyebab terbesar dari banyaknya komentar tentang macet adalah karena hari libur di setiap bulannya. Dengan adanya hari libur tersebut, jalan tol menjadi jalan yang cukup padat karena digunakan sebagai penghubung dari satu kota ke kota lainnya.

Akan tetapi, apabila kita berbicara secara keseluruhan, ada beberapa faktor lainnya yang menyebabkan kemacetan di jalan tol.

Dari data yang sudah kami analisis, penyebab kemacetan di jalan tol dibagi menjadi 5 faktor. Faktor tertinggi yang menyebabkan kemacetan di jalan tol adalah volume kendaraan itu sendiri. Perbincangan perihal volume kendaraan itu sendiri mencapai 2.545 kali. Apabila kita hubungkan dengan informasi sebelumnnya, volume kendaraan ini meningkat dengan pesat ketika terjadinya arus mudik dan juga beberapa hari libur nasional di Indonesia. Selain itu, faktor kedua yang menyebabkan kemacetan di jalan tol adalah terjadinya kecelakaan, di mana perbincangan tentang hal ini ditemukan sebanyak 1.243 kali.

Masalah proyek perbaikan jalan pun ternyata menjadi salah satu penyebab kemacetan terbesar di jalan tol. Masalah ini dibicarakan sebanyak 293 kali di Twitter. Selain ketiga hal itu, ternyata Jalan yang rusak (154), kendaraan yang mogok (114), penyempitan jalan dan juga faktor bencana alam menjadi alasan kemacetan di jalan tol.

Kemacetan di Jalan Non-Tol

Selain melakukan analisis di jalan tol, kami pun melakukan analisis Object “Macet” di jalan Non-tol. Hasil yang kami dapatkan dari analisis tersebut adalah Jakarta sebagai kota termacet di Indonesia. Sebagai ibu kota dari negara Indonesia, Jakarta tentu sangat padat akan penduduknya, dan kemungkinan macet tentu pula akan jadi lebih besar dibandingkan kota-kota lainnya. Perbincangan perihal Macet di Jakarta ini pun kami temukan sebanyak 17.089 kali. Angka tersebut bisa dibilang sangat besar apabila kita bandingkan dengan kota-kota lainnya.

Selain kota Jakarta, pada urutan kedua kota termacet di Indonesia adalah kota Bandung. Perbincangan tentang kemacetan di Bandung ditemukan sebanyak 4.450 kali. Sedangkan untuk kota Bogor, perbincangan tentang macet ditemukan sebanyak 1.656 kali. Kota-kota macet lainnya adalah Depok (1.549) dan juga Bekasi (1.509).

Untuk kota Jakarta sendiri, volume kendaraan menjadi faktor terbesar terjadinya kemacetan di jalan Non-Tol. Perbincangan tentang volume kendaraan di Jakarta yang membuat macet kami temukan sebanyak 328 kali. Disusul oleh beberapa faktor lainnya, seperti kecelakaan (283), adanya proyek jalanan (275), bencana alam (232), dan adanya acara-acara yang mengganggu kelancaran jalan (143).

Jend. Soedirman lah yang menjadi daerah termacet di kota Jakarta. Kami menemukan ada 1.203 perbincangan di Twitter perihal JL. Jend. Soedirman yang macet. Selain jalan tersebut, empat daerah lainnya yang paling macet di Jakarta adalah JL. Pramuka (1.051), JL. KH. Mas Mansyur Tanah Abang (896), Grogol (789) dan juga Fatmawati (693).

Untuk kota Bandung sendiri, ternyata kota ini memiliki faktor sendiri mengapa macet sering diperbincangkan oleh pengguna Social Media. Pertandingan sepak bola menjadi salah satu faktor penyebab kemacetan di Bandung. Untuk hal ini, kami menemukan ada 41 perbincangan perihal pertandingan sepak bola yang menyebabkan kemacetan di Bandung. Sedangkan faktor terbesarnya masih disebabkan oleh volume kendaraan yang terlalu berlebihan (249).

Lembang menjadi daerah paling macet di kota Bandung, di mana kami menemukan ada 568 perbincangan perihal macet di daerah tersebut. Selain Lembang, daerah macet lainnya yang kami temukan adalah Cibiru (178), Cibaduyut (159), Dago (130), Kopo (112) dan juga Pasopati (77).

Sedangkan untuk kota Bogor, jalan rusak menjadi salah satu penyebab kemacetan. Ada 16 perbincangan tentang jalan yang rusak di kota Bogor, di mana hal ini menyebabkan kemacetan di kota tersebut. Sedangkan untuk penyebab utamanya masih disebabkan oleh volume kendaraan yang terlalu berlebihan (47).

Puncak tentu saja menjadi salah satu daerah yang paling sering dihantui oleh kemacetan. Kami menemukan ada 756 perbincangan yang berisikan tentang kemacetan di daerah puncak. Selain puncak, beberapa daerah macet lainnya di Bogor adalah Dramaga (50), Parung (40), Cileungsi (24), dan JL. KH. Sholeh Iskandar (19).

Hasil Akhir Analisis “Macet” di Social Media Twitter

Hal lainnya yang kami temukan adalah waktu di mana netizen sering membicarakan masalah macet ini di Social Media Twitter. Kami menarik kesimpulan bahwa jam 16:00 – 19:00 menjadi Peak Time di mana masalah kemacetan sering diperbincangkan, khususnya di Social Media Twitter. Dalam rentan waktu tersebut, biasanya netizen mengeluh akan kemacetan pada jam-jam sepulang kerja, sekolah, atau pun aktivitas lainnya.

Tol Cikampek pun menjadi tol paling macet selama jangka waktu Mei sampai Juli. Dari 22.896 perbincangan tentang macet di jalan tol, 4.105 diantaranya membiarakan kemacetan di tol Cikampek. Untuk kemacetan di jalan Non-Tol, Jakarta mendominasi dengan 17.089 perbincangan dari total 30.502 perbincangan.

Volume kendaraan yang terlalu banyak pun menjadi masalah utama yang ditemukan dari terjadinya kemacetan di Indonesia. Baik itu di jalan tol atau pun Non-tol, jumlah kendaraan yang berlalu-lalang memang terlalu berlebihan atau melebihi batas normal pengguna jalan. Selain Jakarta, Bandung, Bogor, Depok dan Bekasi, kami pun menemukan perbincangan perihal kemacetan di beberapa kota lain, seperti Yogyakarta (1.119), Surabaya (596), Semarang (541), Garut (519), Brebes (453), Tanggerang (365), Makassar (221), Pekalongan (216), Ciawi (212), Bali (193), dan Solo (192).

Dengan hasil analisis ini, yang berbasiskan data dari perbincangan di Social Media Twitter, kami bisa menarik kesimpulan bahwa jumlah kendaraan di Indonesia sudah melebihi batas normal. Kami memiliki data yang valid dalam memaparkan semua hasil analisis ini, dengan menarik setiap perbincangannya secara lengkap dan dianalisis secara rinci dan mendalam. Selain itu, fakta lainnya adalah kegunaan Social Media itu sendiri. Social Media itu sendiri bukan hanya bisa digunakan untuk sekedar mengungkapkan opini atau pun berinteraksi saja. Akan tetapi, apabila data ini diolah dengan baik, kita bisa mengetahui banyak fakta tentang apa yang sebenarnya terjadi dibalik setiap konten di Social Media.

Toko Buku gramedia
By Ilham Saputra

Berbelanja di toko buku memang sangat menyenangkan. Menemukan koleksi buku terbaru yang terpajang di rak buku membuat pecinta buku betah untuk berlama-lama di toko buku. Itulah kesan yang didapatkan jika Anda bermain ke toko buku.  Pada tahun 2000-an, toko buku menjadi salah satu tempat favorit untuk mencari buku-buku terbaru. Tak khayal, beberapa brand ternama di Indonesia saat ini menikmati kejayaan penjualan buku-buku baru hingga saat ini. Beberapa toko buku ternama di Indonesia masih mampu bertahan untuk menyediakan buku-buku terbaik dan ada juga yang akhirnya tenggelam dalam kejayaan di masa lalu.

toko buku konvesional

toko buku konvesional

Perubahan teknologi yang sangat cepat turut mempengaruhi gaya berbelanja masyarakat. Budaya belanja modern seperti membeli buku melalui toko online atau social media sudah menjadi hal yang sangat sering dilakukan ketimbang membeli langsung di toko buku. Ketika brand tersebut tidak mengikuti tren yang berlaku saat ini, maka tinggal menunggu bom waktu ketika toko buku konvensional sudah tidak digemari kembali.

Oleh karena itu, beberapa brand toko buku di Indonesia menggunakan social media sebagai media promosi dan media branding untuk menarik jangkauan peminat toko buku di seluruh Indonesia, bahkan di level Internasional. Beberapa strategi pemasaran di social media akan jauh berbeda dengan strategi pemasaran yang dilakukan secara konvensional.

Jika di toko buku konvensional, pemiliki toko cukup menarik konsumen untuk berkunjung ke toko dengan menawarkan diskon dan promosi lainnya. Lain hal dengan toko buku secara online, ketertarikan konsumen bukan hanya terkait dengan buku yang dicari melainkan harga serta brand yang melekat di belakangnya. Karena saat ini tren toko online terkenal dengan motto “Beli Online Jauh Lebih Murah“. Sehingga, para pemilik toko buku harus menentukan strategi yang tepat untuk mempertahankan brand serta meningkatkan penjualan di Internet.

Dari beberapa masalah di atas, ada beberapa hal sederhana yang bisa kita amati dari aktivitas toko buku di social media. Salah satunya adalah konten. Beberapa tokoh terkenal menyebut jika konten adalah raja. Artinya, keberadaan konten dinilai sangat penting untuk mempengaruhi orang terhadap brand dan produk yang di promosikan. Oleh karena itu, ada beberapa toko buku ternama di Indonesia yang kami pantau melalui aktivitas Fan Page di Facebook di antaranya sebagai berikut:

Toko Buku Gramedia

Fan Page Gramedia

Fan Page Gramedia

Gramedia adalah toko buku yang telah berdiri sangat lama di Indonesia. Bahkan, saat ini Gramedia memiliki toko buku terbesar se-Asia tenggara. Walaupun dengan kekuatan brand yang telah berdiri sejak lama, nampaknya mereka mulai aware mengenai social media dan toko buku online. Dari pantauan kami, saat ini gramedia memiliki jumlah like Fan Page di Facebook sebesar 959 ribu orang. Cukup besar dibandingkan Fan Page toko buku lainnya.

Jika kita melihat runutan aktivitas mereka di facebook, rata-rata Gramedia memposting sebanyak 3 sampai 4 posting setiap harinya, dengan jadwal meliputi pagi, siang dan sore. Mereka tidak mengambil waktu malam sebagai jadwal posting mereka. Dari segi konten, mereka cenderung menyediakan konten yang bersifat menguatkan brand seperti memberikan voucher, memberikan diskon tertentu dan beberapa lomba yang disediakan oleh sponsor. Menariknya, beberapa informasi diskon dan lain-lainnya mereka sediakan hanya melalui akun social media mereka. Sehingga, tidak semua orang tahu mengenai promo yang disediakan oleh mereka. Salah satu konten bersifat branding bisa kita lihat contoh posting di bawah ini:

Content Fan Page Gramedia

Content Fan Page Gramedia

Konten tersebut menjadi top post made karena mendapatkan like dan comment terbanyak diantara postingan lainnya. Hal ini menjadi bukti bahwa mereka ingin menampilkan brand Gramedia ke masyarakat luas, khususnya di Facebook. Mereka menggunakan Facebook Ads sebagai media penyebaran brand awareness ke beberapa target demografi yang telah di tentukan. Cukup banyak respon yang didapat dari posting-an tersebut.

Selain itu, rupanya Gramedia sadar betul mengenai social media. Hal itu terbukti dari pemisahan konten yang bersifat promosi langsung dan pengembangan brand. Gramedia menciptakan dua halaman yang berbeda untuk konten yang berbeda. Jika halaman ini digunakan untuk brand, maka halaman gramedia.com khusus dibuat untuk menjual koleksi buku yang dimiliki Gramedia.

Fan Page Gramedia.com

Fan Page Gramedia.com

Fan Page dengan jumlah like 232 ribu orang ini dikhususkan untuk menjual buku secara langsung. Hal itu bisa kita lihat dari tombol Fan Page yang diarahkan secara langsung untuk belanja. Namun dibalik itu semua, layaknya promosi buku pada umumnya, konten yang mereka sajikan sama persis seperti gaya promosi mereka di toko buku konvensional.

Disini, mereka menyediakan konten dengan memberikan sinopsis atau ulasan isi mengenai buku yang akan dijual. Di bawahnya, mereka mencantumkan tombol harga untuk membeli langsung buku tersebut secara online.

Walaupun jumlah like rata-rata sangat minim, namun, untuk beberapa orang yang menyukai salah satu buku yang di posting akan memberikan like sebagai bentuk apresiasi bahwa mereka menyukai buku tersebut. Dan mereka tidak perlu berkomentar untuk menanyakan buku tersebut karena mereka telah menyediakan tombol khusus langsung untuk berbelanja.

Toko Buku Periplus

Fan Page Periplus

Fan Page Periplus

Toko buku Periplus adalah salah satu toko buku terkenal lainnya selain Gramedia.Saat ini, toko buku Periplus fokus menjual bukunya hanya di pulau Jawa dan juga Bali. Toko buku ini memiliki total like sebanyak 25,9 ribu like. Sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah like dari Gramedia.

Dari segi aktivitas posting,rata-rata posting dilakukan sebanyak 4 sampai 5 posting sehari. Dengan jadwal posting yang hanya meliputi dua hingga tiga waktu yaitu pagi, siang dan sore. Namun, dilihat dari beberapa postingan terakhir, mereka tidak memiliki jadwal yang sesuai setiap harinya. Terkadang, mereka mengirimkan beberapa posting dengan selisih rata-rata 30 menit.

Dilihat dari segi konten, umumnya Periplus sering menampilkan beberapa informasi event yang dilakukan oleh mereka, seperti menampilkan informasi stand dan juga bazzar. Terkadang mereka menampilkan informasi beberapa buku dengan tidak mencantumkan harga dan informasi pembelian. Tak khayal, beberapa orang yang berminat untuk membeli buku tersebut sering menanyakan informasi harga di kolom komentar. Sehingga, admin Periplus sering menjawab harga langsung atau memberikan link website mereka di bawahnya.

Namun, beberapa posting yang dibuat sangat minim komentar dan like. Beberapa indikasi yang bisa dilihat adalah penggunaan Facebook Ads. Facebook ads memang akan membantu menambah jumlah like di sebuah Fan Page. Perlu diingat bahwa tujuan Facebook Ads hanya untuk memperluas jangkauan dan mengenalkan brand, sedangkan untuk menarik respon yang baik perlu diupayakan konten yang tepat setiap harinya.

Toko Buku Togamas

Fan Page Togamas

Fan Page Togamas

Togamas dikenal oleh sebagian orang pecinta buku sebagai toko buku yang memberikan banyak diskon. Beberapa klaim diantaranya, Togamas menyediakan buku yang cukup murah di pasaran dibandingkan toko buku lainnya. Dalam hal ini, mereka menyematkan brand mereka dengan motto “Toko Buku Diskon“. Fan Page mereka memiliki total like sebanyak 16,2 ribu orang di Facebook. Selain itu, setiap cabang toko memiliki Fan Page-nya masing-masing. Hal itu dimaksudkan untuk mengenalkan brand mereka ke jaringan lokal.

Dilihat dari aktivitas konten di Facebook, mereka tidak memiliki jadwal yang sesuai untuk menampilkan sebuah posting. Rata-rata konten yang diposting hanya satu kali setiap harinya dengan jadwal waktu yang tidak menentu. Selain itu, minimnya aktivitas konten lainnya adalah kurangnya respon admin dalam membalas pertanyaan orang di komentar.

Dari segi konten mereka menampilkan konten yang bersifat promosi beberapa buku dan promo diskon lainnya.

Content Facebook Togamas

Content Facebook Togamas

Diskon-diskon yang menarik akan di boost menggunakan Facebook Ads. Bisa dilihat total like yang terjadi mencapai 51 ribu orang. Hal ini dimaksudkan untuk menggiring orang untuk melakukan pembelian langsung melalui toko online mereka.

Dari beberapa aktivitas Fan Page toko buku diatas, rupanya ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mengembangkan brand toko buku di social media, khususnya Facebook.

Peak Time yang Tepat

Analisa Peak Time Dengan NoLimit Dashboard

Analisa Peak Time Dengan NoLimit Dashboard

Peak time adalah waktu di mana orang-orang aktif menggunakan social media. Sebelum menentukan jadwal posting, ada baiknya Anda mengamati waktu orang-orang akan aktif menggunakan social media. Hal tersebut sangat penting, menimbang konten akan mendapatkan respon yang cepat dari pengguna ketika kita memberikan konten di waktu dan momentum yang tepat.

Karena beberapa permasalahan yang sering terjadi di social media adalah konten yang bagus namun tidak di baca banyak orang atau konten yang tidak mendapatkan respon apa-apa di waktu ramai. Oleh karena itu, Peak Time yang tepat akan memberikan dampak yang baik untuk mengembangkan efektivitas konten yang Anda buat.

 

Social media Tempat Yang Baik Untuk Memberikan Informasi & Mengembangkan Brand 

Awalnya, social media diciptakan untuk sarana berinteraksi dengan banyak orang. Namun, karena tren belanja online yang marak, maka platform mengembangkan fasilitas khusus untuk berjualan di social media. Oleh sebab itu, penggunaan penjualan langsung sukar untuk mendapatkan perhatian khusus dari pengguna. Beberapa alasan yang cukup mendasar adalah belum munculnya kesadaran untuk membeli buku tersebut karena belum mengetahui isi dari buku tersebut.

Beberapa pelajaran yang bisa diambil adalah sistem toko buku Gramedia, umumnya Gramedia saat ini banyak dikunjungi karena Gramedia berani untuk memberikan buku sample bacaan dari pajangan buku yang dijual. Sehingga, untuk orang yang belum mengetahui buku tersebut diberi kesempatan untuk membaca penuh isi dari buku tersebut.

Dengan demikian, hal tersebut bisa diterapkan pula di social media, yaitudengan memberikan informasi yang cukup lengkap untuk menjelaskan isi dari buku. Mungkin, tidak perlu membuka semua isi dari buku tersebut, minimal, pengguna disuguhi dengan infomasi yang cukup kuat untuk membeli buku tersebut.

Salah satu contohnya adalah sistem penjualan Google Books. Google Books menawarkan buku bacaan sebelum membeli E-Book tersebut.

E-Book Review di Google Books

E-Book Review di Google Books

Karena buku yang dijual di toko buku adalah buku cetak, maka Anda bisa menulis ulang maksud dari buku tersebut. Anda bisa menggunakan gaya bercerita seperti seorang teman yang mereferensikan buku, maka orang akan penasaran dengan apa yang kita ceritakan. Anda bisa membagikan informasi buku tersebut dengan memberikan tag kepada pengikut social media Anda.

Social media Sebagai Tempat Promo Khusus

Diskon Khusus di Facebook

Diskon Khusus di Facebook

Jika kita melihat aktivitas dari ketiga Fan Page diatas, memberikan promo khusus cukup menarik untuk disajikan kepada pengguna di social media. Menimbang tren belanja online jauh lebih murah, hal ini bisa dijadikan senjata ampuh untuk menarik orang berbelanja di toko buku secara online. Anda bisa memasukkan konten dengan promo terbatas seperti diskon khusus untuk orang yang me-like Facebook. Dengan demikian, setelah orang membidik buku yang disukai, orang akan mencari diskon-diskon khusus dari social media. Selain meningkatkan penjualan, otomatis akan meningkatkan pengikut organik di social media, dan tentu akan meningkatkan interaksi dan jangkauan konten dikemudian hari.

Dengan demikian, sesuai perkataan Bill Gates bahwa “Content is King”, menandakan keberadaan konten menjadi kunci utama orang tertarik dengan brand kita. Selain konten, momentum yang pas akan membuat konten yang Anda buat di jangkau oleh banyak orang dan akan berdampak pada jumlah interaksi yang luas. Penggunaan layanan berbayar Facebook Ads bisa digunakan sewaktu-waktu untuk memberikan promo khusus dengan menargetkan beberapa lokasi yang sesuai dengan cabang toko terdekat.