Bisnis e-wallet datang menjadi begitu besar di Indonesia beberapa tahun ini. Tren inovatif yang dibawanya membuat para brand e-wallet Indonesia namanya kini besar di tengah masyarakat. Perkembangannya yang cepat seringkali membuat industri ini menjadi topik menarik bagi para pemerhati bisnis.

Faktanya, di masa perkembangan teknologi ini, strategi pemasaran sosial media adalah satu faktor besar yang mempengaruhi besarnya nama sebuah brand. Pernahkah Anda berfikir, kenapa brand-brand yang baru hadir 2-3 tahun belakangan menjadi sebesar sekarang?

Jika dulu brand-brand konvesional besar membutuhkan 3-10 tahun untuk menyebarkan brand awareness mereka, dengan sosial media sebuah brand kini hanya butuh waktu 2-3 tahun saja. Jika mereka dapat mengelola strategi pemasaran dengan baik, brand awareness mereka juga akan meningkat cepat.

Sebuah brand awareness di media sosial dapat Anda lihat dari respon dan jumlah pembicaraan di media sosial. Ya, hal tersebut bisa menjadi sebuah analisis pengukuran untuk Anda. Jika dahulu mengukur pasar perlu dengan kuesioner dan riset berkelanjutan, kini dengan laman analisis media sosial, Anda dapat mengetahui besar pasar Anda. Contoh ukurannya, tentunya adalah awareness hingga engangement.

Untuk mengupas lebih dalam strategi pemasaran media sosial tersebut, NoLimit Indonesia kini mencoba menyorot jenis post dari industri e-wallet sebagai sampel. Kami mencoba menganalisis jenis posting (konten) seperti apa yang dapat membuat brand besar mendapatkan respon tinggi (engangement) dari konsumen mereka.

E-wallet Indonesia di Media Sosial

NoLimit Indonesia mengambil 5 sampel e-wallet Indonesia, yaitu Dana, Doku, Go-Pay, LinkAja, dan OVO. Lewat NoLimit Indsight, NoLimit Setelah melakukan serangkaian analisis, berikut adalah sekilas ranking media sosial berdasar engangement yang didapatkan masing-masing brand.

Kami menganalisis aktivitas brand di empat objek media sosial, yaitu Instagram, Youtube, Facebook, dan Twitter. Tanpa disangka-sangka, LinkAja dan Doku, yang merupakan e-wallet Indonesia dengan peringkat ke 4 dan 9 di penelitian iPrice Group 2017 lalu, memiliki ranking tinggi dalam tingkat engangement media sosial bulan Oktober ini.

Doku: Pemain Besar Di Instagram dan Youtube!

Berada di peringkat ke-9 dalam ranking e-wallet dengan pengguna terbanyak, ternyata tidak membawa Doku mengatakan kata menyerah. Doku berhasil membuktikan niat untuk membesarkan brandnya dengan performa konten media sosialnya di Instagram yang baik berdasarkan data NoLimit Indsight Oktober 2019 ini.

Dengan mengedepankan konten promosi, Doku berhasil meraih tingkat engangement terbesar di Instagram dibanding brand e-wallet lainnya. Promosi berbau travelling ternyata bisa menarik audience Instagram Doku hingga mencapai jumlah rata-rata engangement hingga 2000. Menarik!

Hal yang menarik lagi dari strategi pemasaran Doku adalah, Doku adalah satu-satunya brand e-wallet Indonesia yang menggunakan Youtube sebagai sarana pemasarannya. Wah, apakah strategi-strategi berbeda yang digencarkan Doku akan membawanya ke peringkat 5 besar bersama Ovo, Gopay, dan Dana?

Dana: Keseriusan yang Terus Berlanjut

Dana memang dapat dibilang konsisten dan teguh. Setelah mendapat peringkat ke-3 di ranking e-wallet dengan pengguna terbanyak di Indonesia, tidak membuatnya berbangga hati dan terus melakukan konsistensi.

Dana menggunakan Facebook sebagai jagoannya, dan mengedepankan berbagai variasi konten untuk meningkatkan perfomanya. Menariknya, Dana berhasil mencapai engangement tinggi dengan rata untuk semua konten. Wah, apa rahasianya, ya?

Bahkan konten sesederhana berupa ucapan pada hari besar pun menjadi top post bagi Dana di Facebook. Sepertinya, Dana sudah dalam tahapan memiliki konsumen loyal.

Baca Juga: Ini Cara Meningkatkan Loyalitas Pelanggan Lewat Media Sosial!

LinkAja

LinkAja, si peringkat ke-4 setelah Ovo, Go-Pay, dan Dana, juga mencoba mendorong engangementnya di platform lain, yaitu Twitter. Konten promosi masih menjadi jagoan untuk industri e-wallet ini. Namun, LinkAja berhasil menggaet audience Twitter dengan konten penulisan yang santainya, sesuai dengan karakteristik audience Twitter.

Bagaimana dengan Ovo dan Gopay?

Si dua besar ini, mengedepankan dua platform berbeda untuk masing-masingnya. Sementara Ovo menaruh fokus yang sama pada Facebook dan Twitter, Go-pay berfokus di Twitter dan mendapatkan engangement tinggi, yang ternyata, sayangnya, terkalahkan oleh Dana dan LinkAja. Wah, sepertinya Ovo dan Go-pay harus mulai was-was dengan pergerakan kompetitornya yang semakin gesit.

Tertarik dengan indsight lainnya?

About the author

Alika Mahroza Alya
SEO Content Writer & Marketing Associate at | alika.mahroza@nolimit.id | Website