Saat mendengar media sosial, kadang kita otomatis berfikir pengaplikasiannya hanya bisa dilakukan oleh bisnis yang bergerak di bidang B2C, atau business to consume. Padahal, bisnis lainnya, atau bisnis B2B, juga membutuhkan optimalisasi di media sosial.

Hal ini menjadi isu karena memang pemasaran yang dilakukan oleh B2C bersifat massive (dalam jumlah banyak). Biasanya pemasaran B2C perlu menggaet satu persatu persepsi konsumen, dan dilakukan besar-besaran. Ini identik dengan media sosial, yaitu bersifat personalisasi dan menggaet audience secara luas.

Sementara B2B, atau business to business; sering dianggap pengaplikasian media sosialnya tidak digunakan. B2B adalah sebutan yang Anda berikan untuk perusahaan yang penjualan produk/jasanya ditawarkan bukan ke konsumen langsung. Melainkan perusahaan lain, lembaga lain, dan bisnis lain.

Faktanya, 84% dari konsumen B2B menggunakan media sosial untuk melakukan riset dalam pengambilan keputusan saat membeli. Data ini merupakan data dilansir dari Mention.com.

Pentingnya Reputasi Anda di Media Sosial

Saat Anda mengetahui bahwa perusahaan Anda merupakan bisnis B2B, tentunya Anda mengetahui kekuatan terbesar dari pemasaran Anda adalah referensi. Hal ini karena dalam pemasaran tradisional, perusahaan B2B yang baik biasanya memiliki ulasan yang baik dari rekan-rekan mereka, ataupun klien mereka yang tak lain merupakan pemain di perusahaan besar.

Namun, tentunya digitalisasi membuat perilaku konsumen dan pemasaran bergeser. Jika Anda sebagai pemain bisnis B2B dulu berfikir bahwa cukup menjaga reputasi dan membuka koneksi di Linkedin saja, Anda salah.

Penelitian dari CMO Council menyebutkan bahwa 90% konsumen bisnis B2B mengaku bahwa konten online dari sebuah perusahaan mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Data lain dari Source IDC menyebutkan bahwa 84% CEO dan VP mengaku bahwa mereka menggunakan media sosial dalam pengambilan keputusan membeli.

Ini membuktikan bahwa, reputasi Anda di media sosial penting untuk konsumen B2B.

Maksimalkan Semua Channel Dengan Content Marketing yang Memikat

Studi dari Content Marketing Institute menyebutkan, bahwa hanya 37% perusahaan yang merencanakan content marketingnya. Dan sisanya, tidak merencanakannya dengan baik. Sementara itu, 72% konsumen B2B mengakui bahwa mereka “mencari tahu” perusahaan yang akan menjadi rekan mereka di internet. Hal ini berdasarkan data dari Pardot.

Bagaimana saat mereka mengetikkan Anda di mesin pencarian, tidak ada satupun link yang keluar? Karena nyatanya, Anda tidak memaksimalkan content marketing Anda di media sosial? Atau saat konsumen Anda mampir ke website atau media sosial Anda, mereka disambut dengan website dan media sosial yang sepi, kaku, dan minim konten.

Terkadang, saat Anda merupakan pemain bisnis B2B, karena berfikir media sosial hanya “pelengkap” dari strategi pemasaran Anda, Anda hanya melakukannya untuk formalitas. Konten yang standar, artikel yang membosankan karena harus terdengar profesional.

Sayangnya, konten media sosial yang Anda tawarkan di bisnis B2B Anda menentukan reputasi Anda dan dinilai oleh calon klien Anda. Kebanyakan pemain bisnis B2B hanya berfokus di Linkedin dan di dunia nyata.

Padahal, media sosial lainnya seperti Facebook, Twitter, dan Instagram, harus Anda pastikan berjalan. Namun, jangan anggap yang lainnya sebagai “pelengkap” saja. Pastikan konten yang Anda bagikan tidak membosankan.

Pilih Channel Media Sosial yang Tepat

Memilih channel yang tepat tentunya merupakan kekuatan besar dalam mengelola media sosial. Dalam B2B, Linkedin, Twitter, Facebook, dan Youtube merupakan empat platform teratas yang mayoritas pemasar B2B di dunia sering gunakan.

Linkedin sebagai Pusat Reputasi

Linkedin seharusnya memang tidak perlu dipertanyakan lagi ketepatannya untuk bisnis B2B. Dengan audience yang berisi dengan para profesional, tentunya Anda akan menyasar orang-orang tepat yang bisa menjadi calon konsumen Anda.

Hal penting tentang Linkedin: Pastikan profil Anda menggaet para pengunjung dan menunjukkan bahwa perusahaan Anda terpercaya. Linkedin akan memberikan reputasi positif dan tepat sasaran untuk para target konsumen Anda.

Twitter sebagai Manajemen Isu

Website berbasis microblogging ini memang memiliki kekuatan spesial dibandingkan dengan media sosial lainnya. Twitter, dengan kekuatan yang ditawarkan lewat percakapan dapat memberikan kekuatan untuk Anda menjadi sumber backlink atau external link.

Backlink adalah kondisi disaat audience mengklik link yang mengarahkan ke website lain. Dengan Twitter sebagai pusat penyebaran informasi tercepat, Anda dapat memanfaatkan ini untuk menggaet visitor Linkedin, Website, hingga Youtube Anda.

Namun, ada hal lain yang lebih bermanfaat dari Twitter. Twitter berhasil mengumpulkan percakapan dari seluruh audiencenya menjadi suatu isu. Disini, Anda dapat mengontrol isu brand Anda dan memantau isu brand kompetitor.

Dengan melakukan pencarian terhadap hashtag, keyword, atau mention, Anda bisa memantau isu brand Anda via Twitter dengan cara mudah. Para pelaku bisnis biasanya memaksimalkan fitur ini dengan media montoring.

Baca Juga: 3 Cara Bagaimana Twitter Bisa Membantu Bisnis Anda Lebih Sukses

Facebook sebagai Pusat Cerita

Hal yang harus Anda ketahui tentang konsumen adalah: ya, konsumen mungkin akan pergi ke media sosial untuk mencari kontak Anda. Tapi jika Anda bisa membangun koneksi dengan mereka di media sosial, itu merupakan nilai plus.

Facebook, sebagai media sosial dengan audience terbanyak secara global, adalah pusat komunikasi yang bermanfaat untuk membangun citra brand Anda. Bisnis B2B dapat memanfaatkan Facebook untuk menunjukan portofolio dan cerita-cerita positif.

Dengan fitur iklan di Facebook, Anda dapat memastikan cerita ini sampai di target yang tepat. Ingat, media sosial adalah media bersosial. Menjadi tidak kaku di platform media sosial juga penting untuk keterikatan koneksi Anda dengan calon konsumen Anda.

Youtube sebagai Pusat Branding

Membuat video yang menarik di Youtube bisa menambah nilai plus untuk reputasi perusahaan Anda. 80% konsumen menyatakan bahwa mereka menonton informasi yang dibagikan calon perusahaan sebagai proses keputusan pembelian.

Video-video yang tepat untuk Anda unggah sebagai bisnis B2B adalah: Product Knowledge, Company Culture & Information, hingga How To Video.

Manfaatkan Media Sosial Untuk Pusat Analisis

Kini, digitalisasi membuat manfaat suatu hal dapat berkali lipat. Salah satunya media sosial. Dahulu, media sosial menjadi pusat informasi dan bersosialisasi yang menjanjikan kecepatan. Kini, bukan hanya kecepatan, tapi media sosial bisa menjadi sumber riset dan pengetahuan.

Kini social media monitoring sering menjadi pilihan investasi baru untuk para pembisnis. Dengan social media monitoring, Anda dapat merekam apa saja yang ada di media sosial: dan ini penting.

B2B memiliki spesialisasi yang berbeda dengan B2C. Saat B2C bersifat massive, focus to quantity, B2B bersifat niche, dan focus to quality. Meski bersifat nicheeyang berarti data yang dicari tak sebanyak B2C, tapi media monitoring tetap bermanfaat bagi B2B. Dengan social media monitoring, Anda bisa mendapatkan hal-hal ini:

  • Memantau tipe perusahaan/audience yang mencari atau membutuhkan servis Anda
  • Manajemen isu dan reputasi dari media sosial terhadap brand Ana
  • Memantau perkembangan kompetitor
  • Memantau tren terbaru untuk insight product development

Dengan tools ini,Anda bisa memastikan pengelolaan pemasaran media sosial Anda terjalankan dengan baik. Pada umumnya, perusahaan social media monitoring juga memberikan reporting khusus yang dapat membuat Anda menganalisis hasil dengan mudah. Dengan begitu, fokus Anda tidak akan terpecah-pecah dan bisa menandai hal yang penting saja dari pengelolaan media sosial.

About the author

Alika Mahroza Alya
SEO Content Writer & Marketing Associate at | alika.mahroza@nolimit.id | Website