Fenomena kampanye warga net di Twitter untuk menyerang salah satu perusahaan besar di Indonesia kembali terjadi. Pada November 2017 tahun lalu, Warga net menyerang salah satu perusaah besar di Indonesia, Traveloka, dengan tagar #UninstallTraveloka. Baru-baru ini, isu serupa kembali naik, namun kali ini menyerang perusahaan Transportasi online, Go-Jek, yaitu dengan tagar #UninstallGojek.

Isu ini pertama kali mencuat di media sosial ketika Brata Santoso, Vice President Operations and Business Development di Go-Jek, menggunggah sebuah postingan di Facebook yang berisikan sebagai berikut.

“I’m happy to say that GO-JEK is taking diversity & inclusiona matter to the next level by the adoption of non-discrimination policy toward the underrepresented grup ie LGBT despite of being an Indonesian company.

We had 30+ LGBT employees and Allies profiled and shared what self-acceptance, freedom, authenticity, freedom, and equality means to them gallery-walk style across the office lounge (+rainbow ice cream treats!); amazingly we have more than 300+ Allies signed up within 3 hours by taking the photo pledge.

To quote Nadiem the founder himself, “In my opinion, if you are intolerant of diversity, you don’t really belong in GO-JEK.”

Postingan tersebut ternyata diinterpretasikan menjadi berbagai macam arti di mana salah satunya adalah bentuk dukungan Go-Jek terhadap LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender). Sekejap setelah postingan tersebut viral, warga net mulai menyuarakan suara mereka dengan tagar #UninstallGojek.

Dalam kasus ini, kami turut memantau dan menganalisis isu tersebut, khususnya di media sosial Twitter di mana tagar tersebut cukup lama bertengger sebagai Trending Topic di Indonesia. Kami memantau dua jenis tagar, yaitu #UninstallGojek dan #UninstalGojek, dengan jangka waktu 13 – 14 Oktober 2018. Dalam menganalisis isu di media sosial, ada beberapa hal yang harus kita ketahui demi mencari tahu perbincangan apa yang sebenarnya ada di balik isu-isu yang beredar. Ada 4 poin yang akan kami paparkan terkait hasil analisis isu #UninstallGojek, yaitu Top Talker, Top Media, Top Influencerd an Top Talk.

Top Talker

Terhitung dari kedua hari tersebut, kami menemukan ada 10.922 Tweet yang menggunakan tagar #UninstallGojek dan #UninstalGojek. Sebagai proses awal dalam menganalisis isu, kami selalu mencari tahu siapa pihak yang paling sering membicarakan isu tersebut, atau kami sebut juga sebagai Top Talker. Dalam hal ini, ada tiga akun yang menjadi Top Talker, yaitu @gpx_e dengan 35 Tweets, @chocolotos13_ dengan 30 Tweets dan @mangoecoep dengan 23 Tweets. Berikut salah contoh Tweet dari Top Talker tersebut.

Top Media

Dengan mengambil contoh Tweet dari Top Talker tersebut ada perbedaan suara yang diutarakan. Top Talker pertama justru menggunakan tagar #UninstallGojek untuk menyuarakan dukungan terhadap Go-Jek, sedangkan Top Talker kedua dengan gamblang menyatakan kekecewaannya terhadap Go-Jek yang membawa-bawa LGBT.

Di sisi lain, Media pun turut menyambung isu ini dengan beberapa artikel yang dibuatnya. Kami menemukan 3 Top Media dengan jumlah Followers terbanyak yang turut membicarakan isu tersebut. Media yang pertama adalah @detikcom, lalu diikuti @VIVAcoid dan @okezonenews.

Top Influencer

Selanjutnya adalah pembahasan mengenai Top Influencer. Influencer sendiri dalam media sosial memiliki peran yang cukup tinggi. Dengan jumlah pengikut yang cukup banyak, setiap konten yang mereka unggah bisa memberikan pengaruh terhadap isu yang beredar di media sosial.

Top Influencer yang pertama adalah Alexander Thian (@aMrazing). Seorang Travel Blogger yang memiliki 637.872 pengikut ini justru menggunakan tagar tersebut bukan untuk mendukung penghapusan aplikasi Go-Jek. Thian sendiri meluruskan bahwa Go-Jek bukan lah satu-satunya aplikasi atau perusahaan yang mendukung LGBT.

Adapula Putu Putrayasa (@putuputrayasa) yang merupakan CEO dari Hebat Group Asia. Dengan modal 330.338 pengikut, beliau pun turut menggunakan tagar #UninstallGojek. Akan tetapi konten yang ia bagikan tidak memiliki relasi yang jelas dengan isu yang sedang kami bahas di sini.

Lalu, yang selanjutnya adalah Zarry Hendrik (@zarryhendrik). Seorang penulis yang memiliki 305.842 pengikut ini justru mempertanyakan keseriusan warga net untuk menghapus aplikasi Go-Jek. Zarry mengunggah foto salah satu pemain film kawakan di Indonesia, Dian Sastro, yang turut menggunakan Go-Jek.

Top Talk

Setelah itu, pembahasan yang terakhir adalah mengenai Top Talk, atau Tweet yang memiliki jumlah interaksi tertinggi terkait isu terkait. Dalam hal ini, kami mencoba untuk mencari konten dengan tingkat Virality tertinggi atau jumlah Retweet terbanyak. Top Talk pertama disumbangkan oleh pemilik akun @BudiGo3, yang merupakan salah satu mitra Driver dari Go-Jek. Dalam cuitannya, dirinya memaparkan kekecewaannya terhadap isu yang beredar dan berdampak pada jumlah pesanan yang menurun drastis.

Sedangkan 2 Top Talk lainnya dari @hairobi dan @airbanang memaparkan bahwa apabila warga net menentang dalam menggunakan aplikasi atau layanan yang mendukung LGBT, makan warga net pun harus berhenti menggunakan aplikasi dan layanan besar lainnya. Dalam hal ini, kami menginterpretasikan konten yang mereka bagikan sebagai bentuk dukungan untuk Go-Jek.

Go-Jek sendiri melakukan klarifikasi untuk menanggapi isu tersebut di media sosial. Melalui akun resminya di Twitter, Go-Jek memaparkan bahwa perusahaan tersebut menjunjung tinggi nilai keberagaman, Bhinneka Tunggal Ika. Terkait isu yang beredar saat ini, Go-Jek menegaskan bahwa hal tersebut hanya merupakan opini dan interpretasi pribadi dari pihak internal Go-Jek dalam menanggapi tema keberagaman pada perusahaan tersebut.

Pada intinya, apabila kita melihat sebuah isu dari sisi luarnya saja, kita bisa saja beranggapan bahwa viralnya tagar #UninstallGojek merupakan satu dukungan besar warga Indonesia dalam melawan Go-Jek. Padahal, apabila kita melihat jauh lebih dalam dengan cara menganalisis isu tersebut, ada berbagai macam suara yang diutarakan di balik isu tersebut.  Dalam kasus ini, hasil analisis singkat kami menunjukan bahwa di balik #UninstallGojek yang terkesan negatif terhadap perusahaan transportasi online tersebut, ada pula perbincangan yang justru tidak setuju dengan kampanye penghapusan aplikasi Gojek atau bahkan mendukung perusahaan Go-Jek itu sendiri. Berdasarkan hasil analisis singkat kami, 1 dari 3 Top Talker, 2 dari 3 Top Influnecer, 3 Top Talk dari isu ini justru menyuarakan perlawanan terhadap kampanye penghapusan aplikasi Go-Jek.

Hal ini menunjukan bahwa proses analisis media sosial ini sangat penting untuk dilakukan, dalam kasus ini khususnya untuk perusahaan-perusahaan besar yang rentan terkena isu seperti ini. Dengan begitu, pihak perusahaan sendiri pun tahu apa yang sebenarnya disuarakan oleh masyarakat, dan pihak perusahaan pun bisa tahu dengan pasti apa yang harus mereka lakukan untuk menanggapi isu-isu tersebut.