Secara tidak sadar, tepat hari ini kamu pasti sudah membuka media sosial lebih dari dua kali, baik itu Instagram, Facebook, Twitter, YouTube atau pun yang lainnya. Akan tetapi, pernah kah kamu bertanya-tanya mengapa setiap hari kita selalu membuka dan tidak bisa lepas dari yang namanya media sosial?

Ternyata, banyak studi yang mengemukakan bahwa secara tidak langsung, media sosial mempengaruhi sisi psikologi manusia. Media ini memiliki tempat tersendiri di bagian otak kita, di mana ada bagian yang terpuaskan ketika kita menggunakan media sosial. Menurut Susan Weinschenk, penggunaan media sosial bisa mempengaruhi proses pada otak, yaitu pada bagian dopamine. Dopamine sendiri adalah zat di dalam tubuh kita yang mengatur perasaan senang dan kepuasaan seseorang akan suatu aktivitas.

Dengan begitu, seseorang yang sudah mulai menggunakan media sosial, secara tidak langsung akan merasa candu dan susah untuk berhenti menggunakannya. Hal ini disebabkan karena efek pada dopamine itu sendiri. James Meikle bahkan mengungkapkan bahwa rasa candu akan media sosial jauh lebih besar dibandingkan dengan rasa candu akan rokok ataupun alkohon sekalipun. Setuju?

Mengapa Kita Terus Membuka Media Sosial?

Fenomena candunya media sosial ini banyak memancing para peneliti untuk mencari tahu alasan apa saja yang membuat penggunanya sangat ketagihan untuk terus menggunakannya.  56% pengguna percaya bahwa media sosial adalah sumber informasi. Bukan hanya informasi yang bersifat umum, tetapi juga informasi yang beredar di kalangan lingkungan mereka, seperti keluarga, teman, ataupun lingkungan lainnya. Tidak aktifnya mereka bisa mengakibatkan kurangnya informasi tentang hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Hal ini berhubungan dengan salah satu jenis sindrom yang dinamakan FOMO atau Fear of Missng Out. Hal ini yang banyak dikaitkan dengan banyaknya orang yang candu akan penggunaan media sosial. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pengguna percaya bahwa ketidakaktifan mereka bisa membuat dirinya kurang akan asupan informasi di sekitarnya. Semakin sering seseorang menggunakan media sosial, semakin tinggi juga potensi sindrom FOMO ini akan meningkat.

Sedangkan pada studi lainnya, lebih dari setengah kaum wanita yang menggunakan media sosial dengan gamblang mengakui bahwa mereka menemukan hal yang menyenangkan pada media tersebut. 60% Wanita mengaku bahwa mereka memang tidak bisa lepas dari media sosial, dan ada banyak sekali faktor-faktor dibelakang fakta ini.

Dibalik tingginya pengguna media sosial ini, apa saja yang sebenarnya merka lakukan? Kita ambil contoh media sosial Instagram. Hal-hal utama yang kita lakukan sebenarnya hanyalah melihat feed dari pengguna lainnya yang kita ikuti, lalu melakukan aksi seperti memberi Like, Comment atau pun Share ke pada konten Instagram tersebut. Terutama Like dan Share, kedua hal tersebut adalah kegiatan yang pasti dilakukan oleh pengguna media sosial, baik itu secara sadar ataupun “tidak sadar”.

Mengapa Kita Menyukai (Like) Konten Media Sosial?

Jawabannya sangat mudah, kita menyukai sebuah konten di media sosial karena konten tersebut menarik dan informatif untuk pembacanya. Dalam satu sisi, alasan tersebut memang benar. Di sisi lain, ada sisi psikologi yang membuat kita menyukai (Like) konten tersebut, walaupun sebenarnya kamu tidak begitu menyukai konten tersebut, atau bahkan kamu belum memperhatikan isi dari konten tersebut sama sekali. Pernah mengalami?

Hal tersebut adalah efek reciprocity. Efek reciprocity ini adalah timbal balik dari apa yang sudah diberikan orang lain ke pada kita, di mana kita pun merasa harus memberikan hal sama ke pada mereka. Dalam konteks media sosial, secara tidak sadar kita merasa harus memberikan Like kepada seseorang karena dia selalu memberikan Like di setiap konten yang kita bagikan. Hal tersebut lah yang membuat kita secara tidak sadar akan memberikan Like pada konten yang dibuat oleh orang-orang tertentu. .

Selain itu, proses Like pada media sosial ini pun dilakukan untuk menjaga hubungan antara sesama penggunanya. Ketika teman dekat kita membagikan sebuah konten, secara tidak sadar kamu akan memberikan Like kepada dirinya bahkan di saat kamu belum melihat konten yang ia bagikan sama sekali.

Dari kedua konteks di atas, hal tersebut membuktikan bahwa ada sisi psikologi yang berperan di balik rasa candunya seseorang dalam menggunakan media sosial, terlebih lagi dalam memberikan Like.

Mengapa Kita Membagikan (Share) Konten Media Sosial?

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa kita membagikan (Share) konten di media sosial. Jawaban pertama adalah untuk menunjukan siapa diri kita sebenarnya ke pada pengguna lainnya. Ketika kita lebih banyak membagikan konten tentang akibat dari terlalu banyak merokok dan meminum alkohol, maka secara tidak langsung kita sedang membuat gambaran diri kita sendiri sebagai orang yang tidak merokok, tidak meminum alkohol, peduli akan kesehatan dan berlawanan dengan orang-orang yang merokok dan meminum alkohol.

Secara tidak sadar, konten yang kamu bagikan adalah sebuah proses pembentukan jati diri yang nantinya bisa diketahui oleh pengguna media sosial lain. Apabila dalam kehidupan nyata, pembentukan jati diri ada pada perilaku dan cara kita berbicara, sedangkan dalam dunia online, tipe konten yang kita bagikan lah yang menjadi penentu pembentukan jati diri kita di dunia online.

Alasan lainnya adalah karena dengan membagikan konten di media sosial, kita bisa mempererat hubungan dengan pengguna lainnya. Mudahnya, kita bisa berbagi konten-konten menarik ke pada sesama pengguna yang memiliki ketertarikan yang serupa dengan kita. Sama halnya dengan membangun komunitas, membagikan konten di media sosial adalah proses untuk menyampaikan sebuah informasi ke pada volume orang yang lebih banyak, dan tentu saja memiliki sisi ketertarikan yang sama.

Sisi Lain Di Balik Candunya Media Sosial

Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa rasa candu akan menggunakan media sosial ternyata memiliki banyak faktor di belakangnya. Bukan hanya sekedar kita melihat konten, menyukai konten lalu memberikan Like dan juga Share di konten tersebut, tetapi juga ada faktor psikologi di belakangnya di mana rasa adiktif akan media sosial ini bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Di sini kita semakin sadar bahwa media sosial bukan lagi hanya sekedar media untuk berkomunikasi atau pun menyebarkan informasi, tetapi juga ada hal besar yang bisa kita temukan di dalamnya. Bahkan, dalam dunia bisnis pun kini media sosial digunakan sebagai sumber data yang bisa memenuhi kebutuhan mereka. Sebut saja seperti membaca perilaku konsumen, mencari respon produk dari pengguna, membangun komunitas, menganalisis kompetitor dan masih banyak lagi. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari media sosial, tetapi tentu saja apabila media tersebut digunakan dengan baik dan benar oleh setiap penggunanya.